Menengok usaha Amsuri Asal kepulauan Sapeken Sumenep, Madura, Jawa Timur yang memiliki omset ratusan juta rupiah perbulannya. Jenis usaha yang dibidiknya memang agak unik, yakni mendaur ulang material kayu jati bekas untuk dijadikan mebel dengan desain lama.
Material jati seken itu berasal dari rumah-rumah kuno di pulau Garam Madura, dan sejumlah perabot-perabot perlengkapan rumah tangga. Namun demikian namanya barang bekas, tentu tidak semua kayu jati seken itu masih terlihat mulus. Seperti material jati bekas perabotan rumah tangga, meski terlihat masih kokoh namun tidak utuh lagi. Atau lemari satu pintu yang sana sini terlihat lubang-lubang bekas di makan rayap.
Tak ayal banyak warga di pulau garam Madura ini, yang datang ke gudang daur ulang mebel CV. Sumenep Baru di Jalan Lingkar Barat, Desa Babalan, Kabupaten Sumenep. Disini para pembeli akan langsung melihat mebel yang sudah jadi dengan bahan dari jati kuno. Tidak hanya itu saja para pembeli juga bisa memilih bahannya sendiri dan memesan sesuai dengan model yang di inginkan.
Usaha yang digelutinya sejak lima tahun lalu ini, ternyata mendapat respon bagus, khususnya dari konsumen penyuka kayu jati. Mereka tidak masalah kalau kayu jati yang dijadikan produk mabel adalah kayu jati bekas. Bahkan sebagian konsumennya juga tidak mempermasalahkan soal harga yang ditawarkan.
Lanjut Amsuri Pengusaha Muda dari kepulauan Sapeken ini, Untuk mendapatkan material jati seken, dia harus rajin berburu rumah-rumah jati tradisi Jawa yang ada di pulau garam Madura yang akan dijual pemiliknya. Sehingga Amsuri harus banyak teman dan membelinya secara borongan, proses selanjutnya, ia memisahkan material jati dan bukan jati.
“
Hanya material jati yang kami manfaatkan kembali, sedang kayu jenis lain tidak. Kami memang khusus produk jati, meski kalau ada konsumen minta dari kayu jenis lain, tetap dilayani. Material rumah yang dipreteli itu, kemudian dibentuk menjadi aneka produk perlengkapan perabotan rumah tangga,” ucapnya.
Amsuri menambahkan, dalam pengelolaan daur ulang kayu jati kuno menjadi sebuah furniture atau mebel ini, dirinya menggunakan tenaga ahli yang cukup profesional, bahkan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pembuatan furniture atau mebel yang dipesan oleh para konsumennya, Amsuri mendatangkan 10 orang pekerja dari Jepara.
Tenaga ahli profesionnal dan seni dalam pembuatan furniture atau mebel ini sangat diperlukan, Sebab menurutnya orang akan kembali memesan mebel atau furniture ke CV. Sumenep Baru, jika hasil garapannya bagus dan kayu jatinya benar-benar kuno. Selain itu pula harga yang ditawarkan lumayan mahal, yakni kisaran Rp. 5 juta hingga Rp. 40 juta perunitnya.
“Selama ini, soal harga tidak menjadi persoalan bagi para konsumen, karena mereka memang mencari bahan kayu jati kuno dan disinilah tempatnya. Namun demikian sebagai pengusaha yang tidak ingin para konsumennya berpaling, maka saya harus juga menjaga kwalitas bahan yang akan dijualnya, selain itu pula untuk garapan pesanan mebel dari para konsumen, saya mendatangkan tenaga ahli dari Jepara. Hal itu dilakukan hasilnya benar-benar bagus dan konsumen puas,” ungkapnya.
“Kayu ini memang sangat mahal, karena selain memang benar-benar kuat, juga bisa dibuat apa saja, seperti perabotan rumah tangga atau lemari,” imbuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar